anggal 2 mei bangsa Indonesia
memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tanggal ini dijadikan sebagai
hari lahirnya pendidikan di Indonesia diambil dari hari lahir salah satu tokoh
perjuangan pendidikan di Indonesia. Ki Hajar Dewantara atau Raden Mas Soewardi
dan mendedikasikan dirinya untuk pedidikan, di kala itu tahun 1922 Ki Hajar
Dewantara mendirikan institusi pendidikan yang bernama Sekolah kerakyatan di
Yogyakarta.
Sebuah perjuangan yang mulia dan juga tidak mudah. Waktu itu
bangsa Indonesia masih dilanda kebodohan, keterbelakangan akibat penjajahan
belanda. Pergerakan memajukan pendidikan telah mempersiapkan putra-putra bangsa
yang siap berjuang untuk Indonesia menuju kemerdekaan. Hasilnya pun terbukti,
kita sekarang sudah merdeka. Namun apakah semangat perjuangan dari para
pahlawan pendidikan kita terdahulu masih tejaga hingga saat ini. namun lebih
merupakan sebuah momentum untuk makin memperkokoh kesadaran dan komitmen bangsa
akan pentingnya pendidikan bermutu bagi masa depan bangsa. Dalam rangka
memperkokoh kesadaran dan komitmen bangsa akan pentingnya pendidikan bermutu
bagi masa depan bangsa.
Kemerdekaan
yang telah dicapai oleh bangsa Indonesia, belum membuat bangsa Indonesia
menjadi bangsa yang maju. Bahkan Indonesia masih tergolong negara yang masih
berkembang, kualitas pendidikan masih kalah tertinggal oleh negara jiran
seperti Malaysia dan Singapura. Semoga saja pada peringatan hari Pendidikan
Nasional tahun ini, dijadikan sebagai tonggak perubahan ke arah yang lebih
baik, Menjadi bangsa yang pintar dan bermartabat, yang akan membawa kepada
kemajuan dan kemakmuran bangsa Indonesia.
Sehingga untuk tahun
ini dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional tahun 2012 Pemerintah
mengambil tema tentang adalah Bangkitnya
Generasi Emas Indonesia. Tema ini sejalan dengan hakikat pendidikan yang
telah ditekankan oleh Bapak Pendidikan Nasional kita, yaitu Ki Hajar Dewantoro,
Hal ini dimaknai sebagai : (1) Generasi yang bermartabat, berakhlak mulia,
memiliki integritas, kuat lebih terpercaya. (2) Generasi yang beradab yang
memiliki berbagai kecerdasan dan kompentensi.
Tema tersebut dipilih
karena sebuah keinginan membangun dan memperkokoh kesadaran bangsa akan
pentingnya pendidikan bermutu bagi masa depan bangsa dan memperkuat komitmen
seluruh pemangku kepentingan pendidikan tentang pentingnya atau strategisnya
pendidikan bagi peradaban dan daya saing bangsa ini.
Oleh karena itu, Pemerintah telah mempersiapkan
grand-design pendidikan, telah disiapkan akses seluas-luasnya kepada seluruh
anak bangsa untuk memasuki dunia pendidikan; mulai dari gerakan pendidikan anak
usia dini PAUD-isasi, peningkatan kualitas PAUD, dan pendidikan yang berkualitas
dan merata, demi generasi yang luar biasa. Tentu perluasan akses tersebut harus
diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan, sekalipun kita semua memahami
bahwa pendidikan itu adalah sistem rekayasa sosial terbaik untuk meningkatkan
kesejahteraan, keharkatan dan kemartabatan. Selanjutnya, diharapkan terbentuk
generasi yang cerdas komprehensif, antara lain produktif, inovatif, damai dalam
interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan
berperadaban unggul.
Tapi kita semua jangan
gembira dahulu dengan adanya kemajuan pendidikan yang menunjukkan kemajuan
pesat, tetapi kita harus menoleh kebelakang, masih banyak permasalahan yang
terbesit dalam diri pendidikan nasional. Masih Banyak kebijakan berganti tanpa dievaluasi sebelumnya.Ada delapan masalah pendidikan yang harus menjadi perhatian.
Kedelapan masalah itu menyangkut (kebijakan
pendidikan, perkembangan anak Indonesia, guru, relevansi pendidikan, mutu
pendidikan, pemerataan, manajemen pendidikan, dan pembiayaan pendidikan). Artinya
jika
ingin sebuah bangsa bangkit dari keterpurukannya, maka bangsa tersebut
mengambil keputusan atau membuat kebijakan yang tepat sesuai permasalahan atau
tantangan yang sedang dihadapinya. Selain kecerdasan merespons masalah
dan tantangan yang dihadapi, kebangkitan generasi emas Indonesia harus
memperhatikan 3 (tiga) dimensi perubahan atau kebangkitan, yakni; (1)
kebangkitan manusia karena didasarkan pada komitmen atau niat baik; (2)
kebangkitan umat manusia memerlukan modivikasi lingkungannya, baik lingkungan
fisik maupun lingkungan sosial, diantaranya memperhatikan buku yang dibaca dan
teman bermain generasi muda kita; dan (3) karena kebangkitan manusia dilakukan
secara terencana, maka monitoring dan evaluasi terhadap setiap fase kebangkitan
sangat diperlukan.
Banyak diantara kita
yang tahu bahwa pendidikan di Negara Indonesia masih sangat memprihatinkan
terjadi pro dan kontra adanya pelaksanaan UNAS tiap tahunnya dan apakah
penentuan suatu standart keberhasilan suatu pendidikan hanya melalui UNAS kalau
dikaji secara mendalam masih belum bisa dikatakan sukses 100% karena masih ada
juga ditemukan kecurangan di dalam UNAS, bahkan Kemendikbud dalam UNAS SMU/SMK
2012 ada 585 pengaduan kecurangan, tetapi harapan
kita semoga ditahun-tahun mendatang UNAS
bisa berjalan dengan sukses, jika dilihat kuantitas dan teknisnya dalam menciptakan
kualitas sumber daya yang berkualitas, baik dari segi biaya, gedung sekolah,
fasilitas bahkan terkadang tak jarang kita menemukan siswa pelajar yang tidak
mengenakan sepatu atau seragam ke sekolah kalau kita tinjau sebenarnya siapa
dibalik penyebab ini dan siapa yang harus bertanggung jawab, tentunya banyak
sekali pihak yang harus ditunjuk untuk menjawab persoalan ini. Dan bahkan
masih ditemukan pula plafon sekolah ambruk pada saat pelaksanaan UNAS 2012 yaitu salah
satu sekolah SMPN di Jakarta untungnya tidak ada korban, oleh karena itu
pemerintah dalam hal ini harus lebih memperhatikan masalah fasilitas ini
Masalah pendidikan Indonesia ibarat benang kusut
yang terus bertambah. Sehingga penting bagi kita untuk mengurai benang kusut
tadi sebagai wujud kepedulian terhadap kondisi negeri ini. Kualitas pendidikan
sangat terkait dengan sistem pendidikan yang diterapkan. Diakui atau tidak,
saat ini Indonesia tengah menerapkan sistem Kapitalisme. Walhasil sistem
ekonomi, politik, sosial, termasuk pendidikan semua bercorak kapitalistik.
Penerapan sistem pendidikan kapitalisme pastinya akan menghasilkan generasi
yang materialistik, individualistik dan konsumeristik. Kapitalisme selalu
mengukur segala sesuatu dengan materi, tidak peduli apakah itu dunia pendidikan
atau bukan. Menjadikan kesenjangan kaya dan miskin semakin melebar. Sehingga
muncul istilah “orang miskin dilarang sekolah!”
Momentum hari
pendidikan nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap tanggal 2 Mei
seharusnya bisa dimanfaatkan pemerintah untuk mengevaluasi perjalanan
pendidikan di Indonesia yang belum bisa dinikmati oleh seluruh rakyat, belum
optimalnya masyarakat dalam mengenyam pendidikan terkait dengan biaya
pendidikan di Indonesia yang dinilai mahal. Pemerintah wajib menyediakan
pendidikan yang murah, khususnya bagi masyarakat tidak mampu jika ingin
mencerdaskan kehidupan seluruh bangsa dan tidak ingin rakyatnya bodoh. . Bahkan warga negara yang memiliki kelainan
fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh
pendidikan khusus. Demikian pula warga negara di daerah terpencil atau
terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan
layanan khusus.
Masalah
pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya
kepada seluruh warganegara untuk memperoleh pendidikan. Masalah ini dapat
dipecahkan dengan dua cara yaitu dengan cara konvensional dan cara
inovatif. Cara konvensional
misalnya pembangunan gedung sekolah dan pergantian jam belajar. Cara inovatif misalnya sistem guru
kunjung dan Sekolah Terbuka.
Bukan lagi sebuah hal yang diragukan jika keberhasilan suatu
bangsa dapat dilihat dari kualitas pendidikan yang ada di Negara tersebut. Dan
kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh faktor pendidik yang secara langsung
berperan dalam penentu mutu pendidikan terutama di Indonesia.
Ada dua. faktor penghambat perbaikan mutu pendidikan. Yaitu:
gerakan perluasan pendidikan untuk melayani pemerataan kesempatan pendidikan
bagi rakyat banyak memerlukan penghimpunan dan pengarahan dana dan daya. Faktor
kedua, kondisi satuan-satuan pendidikan pada saat demikian mempersulit upaya
peningkatan mutu karena jumlah murid dalam kelas terlalu banyak, tenaga pendidik
kurang kompeten, sarana yang tidak memadai, dan seterusnya.
Diharapkan Pendidikan menunjukkan suatu kemajuan yang
konsisten sehingga tahun 2012 dapat tumbuhnya Generasi Emas Indonesia. Selain
itu, pembangunan dan rehabilitasi sekolah dan ruang kelas baru dilakukan secara
besar-besaran. Selanjutnya, diharapkan terbentuk generasi yang cerdas
komprehensif, antara lain produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya,
sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul.